, ,

Peter Pan di Wonderland


Karena menjadi kanak-kanak abadi tidak selalu menyenangkan, Sersan.

***

Read more »

, ,

Percakapan dari Antah Berantah





(Cette jolie doodle of mine.)

Jika boleh berbicara blak-blakan, jujur saja, saya ini orangnya terbilang lambat, baik itu soal berpikir, menangkap informasi, mengambil keputusan, dan melakukan tindakan. Saya bukan seorang genius, maaf saja. Bahkan jika semesta ini tiba-tiba berubah menjadi segepok buku atau film dokumenter, saya mungkin hanya salah satu dari beberapa milyar kepala yang tak pernah disebutkan namanya dan tak pula disorot wajahnya. Tidak, tidak, saya tidak sedang berusaha menjadi sesosok emo di sini, sebab saya mengatakan hal yang sebenarnya. Saya adalah gadis biasa dengan pola pikir biasa dan kehidupan biasa, sesederhana itu saja sebenarnya. Satu-satunya hal yang tak menjadikan saya biasa barangkali adalah ketidakmengertian saya yang, lucunya, kian hari kian menjadi.

Well, kehidupan ini saja sebenarnya masih merupakan misteri---siapa yang dapat menyangkal, coba angkat tangan.

.

.

.

Oh, tangan saya terangkat sendiri, maafkan saya lagi.

****

Read more »

, ,

Countdown: 15 Lagu Muse Terbaik Versi Saya




Belakangan, lagi kumat (ndak tahu untuk yang keberapa kalinya) dengerin lagu lama yang sempat saya sukai semasa rentang SMP dan SMA, di antaranya adalah hampir semua lagu yang dinyanyikan James Morrison, hampir semua lagu yang dinyanyikan SIOEN, hampir semua lagu yang dinyanyikan Frau, hampir semua lagu yang dinyanyikan Panic! at The Disco, hampir semua... ah, tidak akan habis jika saya menyebutnya satu per satu, hanya saja saya ingin memberi highlight untuk group-band beraliran Brit-pop asal Inggris yang sudah setia menemani saya selama lebih dari 6 tahun belakangan.

Yap, dari judulnya saja sudah dapat diterka, sih.

Muse, begitulah band yang digawangi Matthew Bellamy, Christopher Wolstenholme, dan Dominic Howard itu disebut. Meski mereka sudah mulai aktif sejak tahun 1994, namun jujur saja, saya baru mengenal mereka kira-kira pertengahan kelas satu atau kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Itu pun, saya tahunya dari seorang teman sekelas yang dengan sumringah menunjukkan lagu Unintended kepada saya dan beberapa kawan lain. Prolog semulus ini lantas tidak langsung membuat saya jatuh cinta dengan karya mereka. Tidak. Bahkan, sebenarnya, saya mulanya merasa bahwa permainan bermusik mereka sangat aneh, susah diterima. Hm, walaupun umur segitu saya sudah mendengarkan Coldplay, dan dua grup ini sama-sama mengusung tema Brit-pop, tapi musikalisasi Coldplay yang cenderung soft (inspirasional tepatnya) dibandingkan dengan gaya permainan Muse yang sedikit-banyak dipengaruhi unsur nge-rock, memang lebih mudah diterima---apalagi oleh perempuan muda berusia empat belas tahun seusia saya kala itu.

Fortunately, nasib saya lalu mengatakan lain (opo lho Ay), dengan dilirisnya single Starlight pada September 2006, saya mulai membuka mata dan memberi karya-karya Muse kesempatan kedua. Hasilnya, not bad at all---satu tahun pertama, saya lumayan sering memutar lagu mereka untuk teman bersantai; tahun selanjutnya, saya memasuki tahap keranjingan dan ketagihan; tahun berganti tahun, hingga sekarang, sedikitnya ada satu lagu Muse yang mesti saya putar dalam sehari, biasanya dalam perjalanan pergi dan pulang kampus. Nah, berbekal dari latar belakang yang sejujurnya tidak menarik diceritakan ini, saya ingin membagi 15 lagu Muse terbaik versi saya dalam konsep hitungan mundur. Sebelumnya, seperti postingan countdown saya yang sudah-sudah, saya tekankan bahwa ini murni opini yang biased, jadi jangan heran dan kecewa jika terdapat perbedaan di mana-mana :)

Let's check it out!



****

Read more »

,

Countdown: 10 Lagu Indie (Easy-Listening) Dalam Negeri Terkeren (Versi Saya)





Mulanya, saya tergelitik untuk menulis artikel countdown ini sebab, semakin hari, saya mendengar semakin banyak anomali yang mengatakan, "Ah, lagu Indonesia zaman sekarang mah nggak ada yang bagus, mending dengerin lagu luar!"

Saya tidak menyalahkan pernyataan di atas. Seperti yang dapat anda amati sendiri, musik-musik luar (kebanyakan) memang terkesan dan didesain lebih menarik. Hanya saja, bukan berarti Indonesia tidak lagi memiliki musisi  berbakat. Salah besar, sebab sebenarnya, banyak musisi handal hidup di negara ini, hanya saja mereka jarang di-expose.


Read more »

,

Gadis Bertudung Merah dan Serigala (Part. 2)


Aku heran, mengapa mereka tak pernah mengungkapkan di literatur-literatur yang beredar bahwa aku, Gadis Bertudung Merah, sebenarnya bukan perempuan baik-baik. 
Atau setidaknya begitu, semenjak aku sadar bahwa aku telah jatuh hati kepada serigala bertaring gerigi, bermata rubi, dan berbulu anyaman serat nilam.





Read more »

,

One More Time, One More Chance: My Not-So-Short-Thoughts on 5 Centimeters Per Second Movie


Yesterday, I saw a dream.
... A dream about the past.
In that dream, we were still 13 years old, and we were in a wide, snowy, empty field. The light that came from the houses looked dim and so far away, only our tracks were on the road we passed. With that scenery, someday, we will see the cherry blossoms together.
Once again: he and I, without a single doubt.
That's what we thought.




Read more »

, ,

Kepada: Tuan Kelinci Penumbuk Moci di Bulan

Tadi siang, di kelas Matematika, saya tanpa sadar telah menggambar gadis ini di tepi lautan rumus dan simbol abstrak yang sedang terlibat peperangan hebat:


Jangan salahkan saya jika ia terlahir dengan wajah tak bahagia dihias mata asimetris melalui seperdua dari lima pasang jemari saya yang bahkan tak memiliki uterus.

Jangan salahkan saya.

***

Read more »

,

Countdown: 10 Lagu yang Belakangan Paling Sering Saya Putar di Saat Hujan


Hujan identik dengan perasaan mellow dan romantis---itu yang ada dalam benak saya. Setiap hujan turun, bawaannya pasti pengen muter lagu galau nan melankolis sambil sok-sok memasang wajah dramatis, berandai bahwa saya tengah membintangi video klip lagu tersebut. Kebiasaan ini sudah mendarah daging, enanggan lepas. Sehingga otomatis, setiap hujan datang, kalau tidak merenung, meratapi nasib dan hidup, ya saya buru-buru mencari nada-nada minor demi memenuhi kepuasan batin (kayak apa aja, sih, hah). Nah, ditilik dari playlist saya selama satu bulan terakhir, berikut adalah 10 lagu yang belakangan sering saya putar di kala hujan.

Well,  bukan berarti semua oarang lantas mau ambil pusing, though, tapi ya masa bodohlah, tidak perlu koprol atau berkata wow atau apa, saya... hanya... ingin... nge-share.

Cekidot!

Read more »

,

Never Say No to Ice Cream: I Scream, You Scream, We All Scream For Ice Cream!


Selamat datang, Desember.

Belakangan, Jogja terus-terusan diguyur hujan, terkadang pagi, terkadang siang, terkadang malam. Tidak masalah, sih, karena saya termasuk salah satu pecinta dan pengagum tetes air langit itu. Apalagi, beberapa hari yang lalu, sewaktu saya berlindung---berjalan---di bawah payung perak metalik di sebuah sore yang sepi dan hujan mengguyuri deras permukaan jalan daerah Sendowo. Tak mampu saya ungkapkan betapa cantiknya pemandangan waktu itu, rumah-rumah tua bergaya Belanda, pohon-pohon tinggi dengan jenis beragam, basah oleh titik-titik liquid yang datang dari gumulan mendung, bercampur aduk dalam wangi tanah yang tersiram sisa-sisa pertengkaran petir, angin, dan awan---mungkin juga matahari, pada kisah lain yang entah kapan terjadi, dan di mana, dan mengapa.

Sayangnya, ketahanan tubuh saya terbilang lemah.

Maka tak salah jika saya katakan kali ini, hujan tak selamanya membawa gairah.

Read more »

, ,

Bekukan Segalanya!


Di tengah kesibukan hidup yang dibuat-buat dan semakin menjadi ini, kadang saya berpikir, alangkah asiknya jika saya memiliki sebuah tombol yang dapat mem-pause-kan (entahlah, apakah ini bahkan dikategorikan sebuah kata, saya tidak tahu) waktu tanpa menghilangkan aliran oksigen yang perlu saya hirup, dan segala aktivitas yang ada di sekitar saya terhenti tiba-tiba, seperti visualisasi yang sering ditampilkan pada film-film sains fiction dan semacamnya. Bayangkan saja, waktu terhenti, gerakan setiap manusia kecuali sampeyan terhenti, gravitasi terhenti, tetapi jantung sampeyan tidak terhenti, sirkulasi pernapasan sampeyan tidak terhenti, dan pada akhirnya, sampeyan dapat melepaskan diri dari segala urusan nan membelit otak, mengendurkan syaraf, menghirup udara segar dalam-dalam, tanpa membuang satu detik pun jatah waktu yang sampeyan punya, terkorban sia-sia.

Oke, saya memang dramatis, tapi dengan urusan hidup yang semakin rumit dan dunia makhluk dewasa yang pelik serta selalu tak dapat saya mengerti, tuntutan untuk ini-itu-ini-itu, jangan begini-jangan begitu, saya sudah bukan anak umur segini lagi-bukan segitu, revisi sana-revisi sini, belum lagi jatah mengajar yang harus dikikis sedikit-sedikit demi menutupi kekurangan waktu, rasanya ingin sekali saya mengepak baju, menggeret koper, dan pergi ke tempat sepi terdekat dengan langit teduh dan pepohonan hijau, kemudian berteriak... uh, berucap pelan: man, give me a break.

Just give me a break.

Bekukan segalanya.
****

Read more »

, ,

Suatu Sore, Wangi Kopi Menggantung di Lubang Hidung Saya


Sebuah cerpen singkat semi-ringan setelah lama tak produktif.


Read more »

,

Fireflies


I've never seen fireflies before, not before I moved to this small region. Well I'm not sure anyway, whether there was really no single firefly lived in my old, err, residence---or there actually was, but I just didn't happen to give a fuck.

Honestly, it wasn't until my brother showed me the "Kunang-kunang" song that I knew 'bout them. Forgive me, but have you ever heard of this old-strange-lyric, "Kunanti dirimu sampai aku ketiduran, kumimpi dikejar kunang-kunang. Taringnya keluar, kepalanya membesar. Kutakut dikejar kunang-kunang."

Yep, weird, isn't it? But not in our innocently-childish-mind back then. In fact, we, or rather me, loved to sing those nonsense words a lot. And by saying a lot, I mean, every single time! Though I didn't even know what on earth was that kunang-kunang thingy mentioned by the singer, I kept on singing.

And when I finally met them, one summer night, 7 years ago, part of me knew that, I've fallen right away.

I've fallen right away




Read more »

, , ,

Selamat Malam, Sersan! Antara Siberian Husky dan Cat, Mana yang Malam Ini Akan Kaupilih Sebagai Pelapis Tidurmu? Tidak, Kau Tidak Boleh Memilih Aku.



Jadi, ceritanya, judul kali ini memang sengaja saya buat panjang. Sebab siapa tahu, siapa tahu saja, di suatu waktu, Brendon Urie akan terbangun dengan hangover  luar biasa akut yang mengakibatkan ia singgah ke blog saya dan menggunakan secarik kalimat omong kosong ini sebagai nama album barunya---saya bilang, siapa tahu saja, Sersan.


Read more »

, ,

Puteri Labu dan Pemburu, Part 1


Puteri Labu dan Pemburu

Kuingatkan padamu bahwa ini adalah sebuah dongeng kekanak-kanakan yang sesungguhnya tak layak dibaca. Dan karena ini sekedar dongeng picisan, aku tidak menyarankanmu membacanya keras-keras di tengah pelataran, apalagi di liang telinga nenekmu yang tengah meregang di bawah lumatan serigala. Maka jika kau bukanlah manusia berambut helai permen dan berpiyama sulaman kapas awan, melainkan makhluk dewasa dengan alis mata busur panah dan bibir yang menyeloroh, lebih baik kau segera meninggalkan halaman ini dan kembali pada duniamu yang sungguh, sungguh, tak lepasnya warna-warna hitam-putih-kelam-metalik yang ditata berulang-ulang, dan tak usah lagi kembali.
 

Read more »

,

Countdown: 10 Japanese Band Terbaik (Versi Saya)



Saya suka musik Jepang, bermula dari kesenangan saya menyaksikan anime sedari kecil. Yah, waktu itu ayah saya jauh di Malaysia, Ibu mesti menjaga toko, kakak laki-laki saya yang paling dekat (usia kami 'hanya' terpaut lima tahun) bermain dengan teman-teman sebayanya, keluarga besar saya ada di Pulau Jawa, kakak pertama saya tinggal di lingkungan perusahaannya, dan yang tersisa, praktis, hanya saya seorang diri. Jika Ibu sedang tak mengizinkan saya bermain di luar, saya biasanya menyalakan televisi dan mencari tontonan anak-anak. Dulu, saya ingat betul, tayangan kartun anak-anak masih banyak diputar, tak seperti sekarang.

Read more »

,

Countdown: 10 Lagu yang Paling Sering Saya Putar Minggu Ini

If you look deep enough you will see music; the heart of nature being everywhere music. - Thomas Carlyle



Read more »

Popular Posts

Nihayatun Ni'mah, 2013. Powered by Blogger.

Followers