Suatu Malam, Monster di Kolong Tempat Tidur Saya Berdansa


(gambar diambil dari sini)


Suatu Malam, Monster di Kolong Tempat Tidur Saya Berdansa

Suatu malam, monster di kolong tempat tidur saya berdansa
Tawa alkoholiknya tercium sampai di kulit dinding, merembes
dan meninggalkan air mata.

Di malam yang lain, kuku-kuku jemarinya menyergap di mata kaki saya
Ayo singgah, ia merayu, nanti kau
kusuguhi segelas susu.
Namun saya menolak, saya enggan---saya bilang:
Jangan, apa yang mesti saya perbuat jika ayah dan ibu tahu
jika lantas,
kabar cepat menyebar ke seisi desa
seumpama kisah kembang desa yang mati tragis seminggu lalu.
"Oh, masa?" ia tertawa, mengirimkan napasnya yang bau duri salmon ke udara.
"Kalau begitu, mari, mari,
kita bawa ayah dan ibumu serta."

Sekian malam kemudian, ia kembali berdansa
bersama monster laci lemari, layar televisi, surat-surat piutang,
juga ayah dan ibu.
"Anne, ke marilah sejenak," Ibu berbisik di sela kernyitan dipan, "ayo menari,
seperti yang diajarkan guru balletmu di sekolah."
Tetapi lagi-lagi, saya menolak---nanti dulu, saya beralasan, sebab ada banyak
ada banyak betul
huruf-huruf telanjang-tak-berpakaian
yang harus saya tunjukkan jalan pulang---angka-angka
yang mesti saya ninabobokan.
"Oh, masa?" ibu tertawa, sembari mewarnai uban ayah dengan tinta pena.
"Kalau begitu, mari, mari,
kita bawa huruf, angka, dan gurumu serta."
Juga orang-orang desa, saya menyambar segera.
"Ya, juga orang-orang desa," si Monster menyahut, "orang-orang desa---
dan hantu gadis kembang yang mati tragis seminggu lalu."

Mari berpesta.

****

Sabtu malamnya, di kolong tempat tidur saya, ada pesta besar.

Si Monster menyulut kembang api, membiarkannya pecah menjadi kelopak bunga panas kemerahan
dan mati di antara jahitan seprei yang baru saya tambal tempo hari.
"Mengapa kau tak singgah?"
Kuku jemarinya kembali melingkar di mata kaki saya.
"Tidak, tidak sekarang, saya sedang menjahit nilam."
"Untuk dijadikan penghias di atas makam si gadis kembang?"
Saya bisa saja berpura-pura demikian, tapi tidak.
"Lalu, lalu, untuk kaujadikan pengganti selimutmu yang kuajak berdansa?"
"Ah, sayangnya tidak---jika ini lotere, kau sudah rugi total."
"Kalau begitu, untuk---"
Saya mendekap mulutnya, membawanya naik ke ranjang.
Ia menurut saja, tak melafalkan apa-apa.

****

"Sehelai kain nilam, agar saya tak perlu mampir---agar tak ada
yang dapat keluar,
dan agar kau
tak dapat pulang."

Si Monster tersenyum, memamerkan taringnya yang tak lagi kelihatan.

Di atas kasur saya yang tersibak sempurna, kami berpelukan.


Yogyakarta, 2013.
Random to the max.

Comments
One Response to “Suatu Malam, Monster di Kolong Tempat Tidur Saya Berdansa”
  1. always love your writing ya <3

Leave A Comment

Popular Posts

Nihayatun Ni'mah, 2013. Powered by Blogger.

Followers

About Me

My Photo

Nihayatun Ni'mah. Yogyakarta. Dream-painter.